
Depok | Edisi.id — Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Depok, Marwaji, S.H., menginisiasi agenda kerja bakti bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk membersihkan dan menata kawasan Setu Rawa Besar, Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Agenda tersebut dibahas dalam Rapat Kerja (Raker) Pokdarwis sebagai langkah konkret mengimplementasikan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
Marwaji menegaskan, bahwa kerja bakti tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan kebersihan yang bersifat insidental, tetapi harus menjadi bagian dari gerakan kolektif untuk membangun kesadaran ekologis dan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Menurutnya, Setu Rawa Besar memiliki potensi strategis yang perlu dijaga melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
“Gerakan Indonesia ASRI harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata, terukur, dan berkelanjutan. Kerja bakti merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa kebersihan dan kelestarian Setu Rawa Besar adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar agenda seremonial,” ucap Marwaji, Sabtu 10/10/2026.
Ia menjelaskan, bahwa pelibatan Forkopimda diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus mendorong pembagian peran yang jelas dalam menjaga kebersihan, menata kawasan, dan memelihara lingkungan setu. Sinergi tersebut dinilai penting agar gerakan kebersihan memiliki kesinambungan serta menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
“Pemerintah, Pokdarwis, komunitas, dan warga harus bergerak bersama sesuai kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Kita membutuhkan tata kelola lingkungan berbasis partisipasi masyarakat, sehingga kebersihan kawasan tidak hanya bergantung pada kegiatan sesaat, tetapi menjadi budaya bersama,” tegasnya.
Lebih jauh, Marwaji memandang Setu Rawa Besar sebagai aset lingkungan dan sosial yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal dengan fungsi ekologis, edukatif, dan ekonomi.
Namun, pengembangan tersebut harus direncanakan secara bertanggung jawab dengan menempatkan kelestarian ekosistem sebagai landasan utama, bukan semata-mata mengejar peningkatan kunjungan wisata.
“Orientasi kita bukan hanya menjadikan Setu Rawa Besar sebagai tempat rekreasi. Kita ingin membangun destinasi yang produktif, inklusif, dan edukatif. Kelestarian lingkungan harus menjadi fondasi, sehingga pengembangan wisata memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan daya dukung kawasan,” jelasnya.
Dalam perspektif pemberdayaan ekonomi, ia mendorong keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemuda, serta komunitas ekonomi kreatif dalam perencanaan dan pengembangan kawasan.
Partisipasi tersebut diharapkan membuka peluang usaha, memperluas kesempatan ekonomi, serta meningkatkan nilai tambah potensi lokal tanpa mengesampingkan kepentingan konservasi.
“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton ketika potensi wilayahnya dikembangkan. UMKM harus mendapatkan ruang untuk tumbuh, pemuda perlu dilibatkan sebagai penggerak, dan komunitas lokal harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Dengan begitu, pengembangan wisata dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih inklusif,” ungkap Marwaji.
Ia juga menekankan, pentingnya menjadikan Setu Rawa Besar sebagai ruang edukasi publik mengenai pengelolaan sampah, kebersihan perairan, pelestarian ekosistem, dan penguatan budaya lokal.
Menurutnya, kualitas destinasi wisata tidak cukup diukur dari keindahan fisik, tetapi juga dari kemampuannya membangun pengetahuan, kepedulian, dan perilaku masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Destinasi wisata yang berkualitas harus menghadirkan manfaat lebih luas daripada rekreasi. Setu Rawa Besar perlu dikembangkan sebagai ruang belajar bersama yang menghubungkan pelestarian lingkungan, penguatan budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya.
Marwaji berharap, agenda kerja bakti bersama Forkopimda dapat ditindaklanjuti melalui program pemeliharaan kawasan yang terstruktur, pembagian tanggung jawab yang terukur, serta evaluasi berkala.
Baginya, keberhasilan Gerakan Indonesia ASRI harus tercermin melalui perbaikan kualitas lingkungan, meningkatnya partisipasi masyarakat, dan tumbuhnya manfaat sosial ekonomi secara berkelanjutan.
“Kami ingin Setu Rawa Besar menjadi contoh destinasi wisata lokal yang bersih, lestari, produktif, inklusif, dan edukatif. Komitmen itu membutuhkan kerja bersama yang konsisten. Dengan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, potensi Setu Rawa Besar dapat dikembangkan untuk kesejahteraan warga tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem,” pungkas Marwaji. (Arf)















