

edisi.id –Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah pemerintah Arab Saudi menyatakan kemarahan besarnya atas rentetan serangan drone dan rudal yang diluncurkan Iran ke wilayah mereka. Dalam rapat kabinet darurat yang dipimpin oleh Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) pada Selasa (3/3/2026) malam, Kerajaan menegaskan memiliki hak penuh untuk melakukan aksi balasan demi melindungi kedaulatan negara.
Serangan Iran yang menyasar Kedutaan Besar AS dan markas CIA di Riyadh tersebut dinilai sebagai tindakan pengecut, mengingat Saudi sebelumnya telah menegaskan posisi netral dengan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan AS untuk menyerang Iran. Meski sistem pertahanan udara Saudi berhasil mencegat sejumlah ancaman, serangan tersebut tetap memicu kerusakan material dan kebakaran di area diplomatik.
“Kerajaan menegaskan kembali hak penuh untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, integritas wilayah, warga negara, serta kepentingan vital kami. Ini termasuk opsi untuk merespons agresi terang-terangan dan pengecut tersebut,” tegas otoritas Kerajaan dalam pernyataan resmi via Saudi Press Agency (SPA).
Pihak Kementerian Luar Negeri Saudi juga memperingatkan bahwa perilaku berulang Iran yang melanggar Konvensi Wina ini hanya akan mendorong kawasan Timur Tengah ke jurang eskalasi yang lebih berbahaya dan tak terkendali. (Yuda)














