Kompak, Inisiasi ‘Hajatan 13 Beji’ sebagai Model Pemberdayaan Generasi Muda dalam Kerangka Pembangunan Sosial Kultural

  • Bagikan
Komunitas Pemuda Kreatif (KOMPAK) Depok, Panitia Acara Hajatan 13 Beji.(Foto : Edisi.id)
Komunitas Pemuda Kreatif (KOMPAK) Depok, Panitia Acara Hajatan 13 Beji.(Foto : Edisi.id)

Depok | Edisi.id — Hajatan 13 Beji merupakan ekspresi konkret dari dinamika sosial generasi muda Kelurahan Beji yang berupaya mengintegrasikan kreativitas, ekonomi lokal, dan pelestarian budaya dalam kerangka pembangunan berbasis komunitas.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Keriaan Beji, yang menjadi wadah artikulasi gagasan kolektif antara kaum milenial dan generasi Z untuk memperkuat ekosistem sosial yang kolaboratif dan berkelanjutan di Kota Depok.

Riza, Koordinator Hajatan 13 Beji, menjelaskan, bahwa kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk mengonsolidasikan potensi generasi muda yang selama ini tersebar dalam berbagai bidang sosial dan ekonomi.

“Hajatan 13 Beji 2025 merupakan langkah sistematis dalam membangun kesadaran kolektif, dan kapasitas sosial generasi muda agar dapat berkontribusi nyata terhadap pembangunan kota melalui kreativitas, kolaborasi, serta partisipasi produktif”, ucap Riza, Minggu 9/11/2025.

Sebagai bagian dari proses institusionalisasi gerakan sosial muda, Riza bersama tim membentuk Komunitas Pemuda Kreatif (KOMPAK) Depok.

Komunitas ini memfokuskan kegiatan pada tiga pilar utama yakni : penguatan Usaha Mikro, pengembangan pertanian perkotaan, dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Menurut Riza,

“KOMPAK berfungsi sebagai laboratorium sosial yang menghubungkan nilai kreativitas dengan praktik ekonomi lokal dan tanggung jawab ekologis masyarakat urban”, terangnya.

Pelaksanaan Hajatan 13 Beji 2025 pada 9 November 2025 di Lapangan Serbaguna, Jalan Komodo, dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Anggota DPRD Kota Depok TM Yusufsyah Putra dan Plt. Lurah Beji.

Riza memandang dukungan lintas kelembagaan ini sebagai legitimasi struktural terhadap gerakan sosial muda.

“Keterlibatan institusi publik dan tokoh masyarakat tidak hanya memperkuat posisi kegiatan ini, tetapi juga membuka ruang dialog antar generasi dalam membangun model kolaborasi pembangunan yang partisipatif”, ungkapnya.

Menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional dan kontemporer yang menegaskan pentingnya dimensi kultural sebagai bagian dari pembangunan sosial. Riza menilai, bahwa seni memiliki fungsi epistemik dalam membangun kesadaran identitas kolektif serta kohesi sosial.

“Integrasi budaya menjadi strategi simbolik untuk menghubungkan nilai-nilai lokal dengan ekspresi modernitas yang tumbuh di kalangan generasi muda”, bebernya.

Keterlibatan multi stakeholder seperti : Viberlink, Sosro, Diplomasi Kopi, Tatanata Studio, Brodie Talkie, Hiko Studio, Blue Parking, Karang Taruna tingkat Kelurahan serta Pemerintah Kota Depok dinilainya, sebagai contoh konkret dari kolaborasi publik swasta berbasis komunitas.

“Hajatan 13 Beji bukan sekadar ruang rekreatif, tetapi instrumen sosial yang merepresentasikan transformasi generasi muda dari konsumen budaya menjadi produsen nilai, baik ekonomi, sosial, maupun kultural, dalam sistem pembangunan kota yang berkelanjutan”, tandasnya.(Arifin)

  • Bagikan