
Depok | Edisi.id — Pemanfaatan anggaran berbasis RW sebesar Rp.300 juta per RW di Kota Depok diarahkan tidak semata untuk pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat. Di wilayah RT 05/RW 02, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, para ketua RT memilih kegiatan Training of Trainers (TOT) tanggap bencana bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) sebagai bentuk penguatan kapasitas warga.
Haikal, Tokoh Muda Kelurahan Depok sekaligus Ketua RT 05/RW 02, mengatakan pilihan tersebut didasarkan pada pertimbangan kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan dan keterampilan menghadapi situasi darurat di tingkat lingkungan.
“Para RT di wilayah RW kami memilih TOT tanggap bencana bersama Dinas Damkar karena kami melihat kebutuhan peningkatan kapasitas warga secara langsung. Kebakaran dan keadaan darurat lainnya dapat terjadi di lingkungan permukiman, sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan dasar untuk melakukan respons awal,” ujar Haikal, Selasa 29/9/2026.
Menurut Haikal, model TOT dipilih karena memiliki pendekatan penguatan kapasitas yang memungkinkan peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan kepada masyarakat di lingkungannya.
“TOT ini bukan sekadar mengikuti pelatihan. Kami ingin para peserta yang mengikuti kegiatan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kemudian dapat ditularkan kembali kepada warga di masing-masing RT,” katanya.
Haikal menjelaskan, keterlibatan Dinas Damkar memberikan nilai tambah karena materi dan praktik penanganan keadaan darurat diberikan oleh institusi yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
“Kami memilih bersama Dinas Damkar karena warga membutuhkan pengetahuan yang benar, prosedur yang tepat, dan praktik yang sesuai dengan standar penanganan keadaan darurat. Jadi bukan berdasarkan asumsi atau pengalaman semata,” jelasnya.
Ia menilai, bahwa pendekatan tersebut penting karena masyarakat merupakan unsur terdekat dengan lokasi kejadian. Dalam kondisi tertentu, kemampuan warga melakukan tindakan awal secara tepat dapat menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan sebelum penanganan lebih lanjut dilakukan oleh petugas terkait.
“Ketika terjadi keadaan darurat, warga biasanya menjadi pihak yang pertama kali mengetahui kejadian. Karena itu, pengetahuan mengenai pencegahan, evakuasi, penggunaan peralatan dasar, serta pola koordinasi menjadi sangat penting,” tegas Haikal.
Haikal juga menekankan bahwa pemilihan kegiatan tersebut merupakan bentuk upaya RT dan RW menerjemahkan anggaran berbasis RW ke dalam kebutuhan yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
“Bagi kami, anggaran berbasis RW tidak harus selalu diterjemahkan dalam bentuk pembangunan fisik. Kalau kebutuhan lingkungan adalah peningkatan kapasitas manusia, maka pelatihan juga merupakan bagian dari pembangunan yang memiliki manfaat jangka panjang,” tuturnya.
Menurutnya, penguatan SDM melalui TOT diharapkan menciptakan efek berantai. Peserta pelatihan dapat berperan sebagai penggerak kesiapsiagaan di tingkat RT sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada individu peserta.
“Harapannya, peserta TOT menjadi simpul pengetahuan di lingkungan masing-masing. Mereka dapat membantu memberikan edukasi kepada warga sehingga terbentuk budaya kesiapsiagaan, bukan hanya respons ketika bencana sudah terjadi,” ungkapnya.
Haikal berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan secara berkala dengan evaluasi dan simulasi di tingkat lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi dari peningkatan kemampuan masyarakat dalam mencegah, menghadapi, dan merespons keadaan darurat.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi kapasitas masyarakat. Ketika warga lebih memahami risiko dan tahu apa yang harus dilakukan, maka lingkungan akan memiliki tingkat kesiapsiagaan yang lebih baik,” pungkas Haikal.(Arf)















