
Depok | Edisi.id — Pemberdayaan lanjut usia (Lansia) di Kecamatan Pancoran Mas mulai diarahkan pada pendekatan berbasis komunitas yang menempatkan lansia sebagai subjek pembangunan sosial. Inisiatif tersebut dikembangkan Syafril Arsyad Mantan Ketua FKKS Kecamatan Pancoran Mas, melalui kolaborasi dengan Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI dalam program bertajuk ‘Lansia Sehat, Lansia Bahagia’.
Syafril menilai, kebijakan pemberdayaan lansia perlu bergerak dari paradigma asistensial menuju pendekatan yang memperkuat kapasitas, kemandirian, dan partisipasi sosial.
“Lansia tidak cukup ditempatkan sebagai penerima pelayanan. Mereka merupakan subjek pembangunan yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kapasitas sosial. Karena itu, orientasinya harus pada penguatan keberdayaan dan partisipasi”, ucap Syafril, Selasa 29/9/2026.
Menurutnya, edukasi kesehatan dan stimulasi kognitif merupakan instrumen promotif-preventif yang relevan untuk mempertahankan kapasitas fungsional serta kualitas hidup lansia.
“Pemberdayaan harus dibangun melalui pendekatan promotif dan preventif. Edukasi serta stimulasi kognitif penting untuk menjaga kapasitas lansia agar tetap aktif, mandiri, dan produktif dalam lingkungan sosialnya”, terangnya.
Syafril menjelaskan, bahwa keterlibatan Pengmas UI menjadi bagian penting dalam membangun intervensi masyarakat yang memiliki dasar pengetahuan ilmiah sekaligus responsif terhadap kebutuhan empiris warga.
“Kolaborasi dengan UI mempertemukan pendekatan akademik dengan realitas masyarakat. Dengan demikian, intervensi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diarahkan menjadi program yang relevan, terukur, dan berkelanjutan”, jelasnya.
Ia juga menempatkan pemberdayaan lansia dalam perspektif penguatan modal sosial. Menurut Syafril, keberadaan lansia dalam komunitas perlu dipertahankan melalui ruang interaksi, partisipasi, dan dukungan sosial yang memungkinkan mereka tetap berkontribusi sesuai kapasitas.
“Ketika lansia tetap terlibat dalam komunitas, yang diperkuat bukan hanya kapasitas individu, tetapi juga modal sosial masyarakat. Karena itu, mereka perlu diberikan ruang untuk berinteraksi dan berkontribusi”, tegasnya.
Syafril menilai , pendekatan tersebut relevan dengan pembangunan sosial di Kota Depok yang membutuhkan integrasi antara aspek kesehatan, pendidikan masyarakat, partisipasi warga, dan penguatan kapasitas komunitas.
“Pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur. Kualitas pembangunan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga kualitas hidup warganya, termasuk lansia. Karena itu, pelayanan, edukasi, kesehatan, dan ruang partisipasi lansia perlu menjadi bagian dari pembangunan kewilayahan”, tuturnya.
Ia menegaskan, bahwa keberhasilan pemberdayaan lansia tidak semestinya diukur berdasarkan jumlah kegiatan, tetapi melalui perubahan kapasitas dan keberlanjutan partisipasi masyarakat.
“Indikator keberhasilan bukan sekadar berapa kegiatan yang dilaksanakan, yang lebih substantif adalah apakah kapasitas lansia meningkat, partisipasinya tumbuh, dan lingkungan sosial mampu memberikan dukungan yang berkelanjutan”, ungkapnya.
Syafril berharap, kolaborasi FKKS Kecamatan Pancoran Mas dengan Pengmas UI dapat berkembang menjadi model pemberdayaan lansia berbasis bukti (Evidence Based), partisipatif, dan berkelanjutan.
“Kita ingin membangun model pemberdayaan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Lansia harus tetap sehat, kapasitas kognitifnya terpelihara, aktif secara sosial, dan memiliki martabat sebagai bagian penting dari komunitas”, pungkas Syafril.(Arf)















