

edisi.id -Situasi di Jalur Gaza kembali memanas setelah militer Israel melaporkan telah menembak mati empat orang yang diduga sebagai militan di wilayah Rafah, Senin (9/2/2026). Insiden ini terjadi pada saat kesepakatan gencatan senjata fase kedua sedang berlangsung, di bawah mediasi Amerika Serikat, sehingga menambah ketegangan di kawasan tersebut.
Peristiwa bermula ketika sekelompok orang bersenjata dilaporkan keluar dari lubang terowongan bawah tanah di area selatan Gaza. Menurut klaim pihak militer Israel, kelompok tersebut langsung melepaskan tembakan ke arah tentara yang sedang berjaga, sehingga memicu baku tembak di lokasi kejadian.
Pihak Tel Aviv menegaskan bahwa tindakan tersebut dianggap sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan damai yang baru berjalan. Militer Israel juga menyatakan tidak ada prajurit mereka yang terluka, namun operasi penyisiran di jalur terowongan bawah tanah akan terus dilakukan untuk mencegah ancaman serupa.
Insiden di Rafah ini semakin memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di Jalur Gaza, sementara isu perlucutan senjata dan proses transisi pemerintahan Palestina masih menjadi persoalan sensitif yang belum terselesaikan. Meski berbagai pihak internasional terus mendorong jalur diplomasi, ketegangan di lapangan menunjukkan bahwa stabilitas di wilayah tersebut masih jauh dari kata aman. (Yuda)














