

edisi.id -Kediaman pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Jalan Kutai Utara, Solo, mendadak viral setelah ditandai sebagai Tembok Ratapan Solo di Google Maps. Fenomena ini memicu gelombang pengunjung yang datang hanya untuk melakukan aksi meratap di depan gerbang rumah tersebut.
Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini masih ada warga yang mencoba melakukan aksi serupa. Video seorang pemuda yang meratap di lokasi tersebut menjadi pemicu utama tren unik namun kontroversial ini di media sosial.
Syarif secara tegas mengimbau masyarakat untuk berhenti menjadikan area tersebut sebagai tempat meratap.
Ia mengingatkan bahwa lokasi tersebut adalah hunian pribadi milik Joko Widodo dan Ibu Iriana, bukan sebuah objek wisata religi atau monumen tertentu.
Meskipun situasi sempat ramai, pihak keamanan memastikan tidak ada pembatasan khusus bagi warga yang ingin melintas. Akses di sekitar kediaman tetap dibuka normal seperti biasa tanpa prosedur pengamanan yang berlebihan.
Pihak keluarga berharap publik bisa membedakan antara ruang publik dan privasi sebuah hunian. Penandaan lokasi di platform digital seperti Google Maps diharapkan tidak disalahgunakan untuk menciptakan narasi yang tidak sesuai dengan fungsi asli bangunan.
Tren Tembok Ratapan Solo ini menjadi sorotan sebagai bentuk ekspresi publik yang tidak biasa pascapurna tugas Jokowi. Petugas di lapangan terus melakukan imbauan persuasif agar ketertiban di lingkungan pemukiman tersebut tetap terjaga. (Yuda)














