Warga Kelurahan Tugu Kompak Sebut Hj. Yeti Wulandari sebagai ‘Emak Aing’ di Reses DPRD Depok

  • Bagikan
Dedi Mulyadi 'Bapak Aing' bersama Hj. Yeti Wulandari 'Emak Aing' dan Reses masa sidang II 2025 DPRD Kota Depok.(Foto : Edisi.id)
Dedi Mulyadi 'Bapak Aing' bersama Hj. Yeti Wulandari 'Emak Aing' dan Reses masa sidang II 2025 DPRD Kota Depok.(Foto : Edisi.id)

Depok | Edisi.id – Reses ke-3 Masa Sidang II Tahun 2025 yang digelar Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Hj. Yeti Wulandari, SH dari Fraksi Gerindra, Jumat (3/10/2025), berlangsung di Lapangan RT 003 RW 001, Jalan Benda Kramat, Gg. Semar, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. Kegiatan ini menjadi ruang artikulasi aspirasi warga sekaligus refleksi hubungan emosional antara wakil rakyat dan konstituennya.

Dalam forum tersebut, Ketua RW1 bersama Ketua LPM Kelurahan Tugu kompak menyebut Hj. Yeti Wulandari sebagai ‘Emak Aing’. Sapaan ini tidak sekadar jargon spontan, melainkan simbol keakraban sekaligus legitimasi sosial dari warga terhadap figur politik perempuan yang dikenal responsif, terbuka, dan komunikatif.

Sebutan ‘Emak Aing’ menunjukkan, bahwa peran politik Hj. Yeti tidak dilihat semata dari formalitas jabatannya sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Depok, tetapi juga dari kemampuannya menjalankan fungsi representasi dengan pendekatan keibuan. Kedekatan ini dipandang penting karena menghadirkan model kepemimpinan yang humanis dalam ruang politik lokal.

Secara kelembagaan, reses merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi DPRD, yakni menyerap aspirasi masyarakat, menyalurkannya dalam agenda kebijakan, serta mengawasi pelaksanaannya oleh pemerintah daerah. Dalam konteks itu, kehadiran Hj. Yeti di tengah warga Tugu memperlihatkan konsistensinya menjalankan mandat konstitusional.

Ketua RW1 menyatakan, sapaan ‘Emak Aing’ lahir dari ketulusan Hj. Yeti Wulandari yang kerap hadir dalam dinamika keseharian warga. Sementara Ketua LPM menegaskan, sebutan tersebut merefleksikan keyakinan masyarakat bahwa suara mereka benar-benar terwakili.

“Kalau di Provinsi Jawa Barat ada ‘Bapak Aing’, maka di Depok saya menyebut Ibu Hj. Yeti Wulandari sebagai ‘Emak Aing’. Kami merasa beliau bagian dari keluarga besar masyarakat Tugu”, ujar RW1, Jum’at 3/10/2025.

“Saya sangat setuju dengan sebutan yang dikatakan Pak RW1, bahwa Ibu Hj. Yeti Wulandari adalah ‘Emak Aing’ bagi warga Kelurahan Tugu atas kepeduliannya terhadap warga Kelurahan Tugu”, sambung Ketua LPM Tugu.

Kedekatan emosional semacam ini menjadi modal politik yang berharga, mengingat jarak antara warga dan politisi sering kali hanya sebatas formalitas. Dengan hadir langsung di lapangan, mendengar keluhan, hingga menyapa masyarakat secara personal, anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra ini menegaskan gaya politik yang membumi, dan sulit ditemui dalam praktik politik transaksional.

Dalam perspektif sosial, penggunaan istilah lokal seperti ‘Emak Aing’ menandai adanya apropriasi budaya Sunda dalam ruang politik. Hal ini memperkuat penerimaan warga terhadap representasi politik yang dekat dengan identitas dan keseharian mereka, sekaligus menjadi simbol politik kerakyatan yang melekat pada figur Hj. Yeti Wulandari.

Reses di Kelurahan Tugu ini sekaligus memperlihatkan bagaimana DPRD Depok tidak hanya menjadi forum birokrasi, tetapi juga arena interaksi sosial-politik yang penuh makna.

Kehadiran sapaan khas ‘Emak Aing’ tersebut menegaskan, bahwa legitimasi politik tidak hanya ditentukan oleh struktur formal, melainkan juga oleh kedekatan emosional, responsivitas, dan keberpihakan nyata terhadap masyarakat.(Arifin)

  • Bagikan