Buktikan Cinta Nabi dan Tanah Air, Pengajian Ini Nyanyikan Indonesia Raya Usai Pembacaan Asrakol Maulid

  • Bagikan

Depok | Edisi.id — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 memiliki nuansa berbeda karena berlangsung berdekatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Momentum tersebut dimanfaatkan Majelis Dzikir dan Sholawat Nur Asy Syabaab untuk mengintegrasikan nilai kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan semangat kebangsaan. Kegiatan digelar di Masjid Ummahatul Mu’minin, Depok, Sabtu (15/8/2026), dengan dihadiri alim ulama serta ribuan jamaah.

Rangkaian acara dikemas dalam suasana merah putih sebagai simbol penghormatan terhadap perjuangan kemerdekaan sekaligus ekspresi kecintaan terhadap Tanah Air.

Ketua Panitia, H. Abdul Rosyid atau yang akrab disapa Abie Ochied mengatakan, bahwa kegiatan tersebut mengangkat tema ‘Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Tasyakuran HUT RI ke-81’.

Menurutnya, perpaduan kedua momentum tersebut merupakan bentuk edukasi keagamaan yang menempatkan nilai spiritual dan kebangsaan dalam satu ruang.

“Oleh karena itu, nuansa dekorasi ruangan semuanya merah putih. Selain dipenuhi bacaan sholawat, kita juga menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mendengarkan lagu nasional sebagai wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Tanah Air Indonesia”, ucap Abie Ochied, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Abie, pembacaan Asrakol Maulid yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya menjadi simbol bahwa kecintaan kepada agama tidak harus diposisikan berhadapan dengan kecintaan kepada negara. Keduanya dapat berjalan beriringan melalui kegiatan sosial-keagamaan yang konstruktif.

Sementara itu, KH. Ainul Yaqin Syafii yang bertindak sebagai penceramah memberikan perspektif mengenai makna kemerdekaan dari sisi spiritual.

Ia mengajak umat Islam memahami kemerdekaan bukan hanya sebagai capaian historis bangsa, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral setiap individu.

“Kita semua warga Indonesia, khususnya muslim, harus merdeka dua kali. Merdeka pertama sudah kita dapatkan, yaitu merdeka di dunia berupa kemerdekaan 17 Agustus 1945”, ujar KH. Ainul Yaqin Syafii.

Lebih jauh dirinya mengatakan, bahwa kemerdekaan kedua merupakan perjuangan manusia untuk memperoleh keselamatan di akhirat.

“Merdeka yang kedua yaitu terbebas dari api neraka atau itqum minannar. Itulah kemerdekaan akhirat yang mesti dan masih kita perjuangkan hingga akhir hayat”, jelasnya.

Pesan tersebut menempatkan peringatan Maulid dan HUT RI dalam kerangka reflektif, bahwa kemerdekaan nasional dipahami sebagai fondasi kehidupan berbangsa, sedangkan kemerdekaan spiritual menjadi orientasi moral kehidupan umat.

Dengan demikian, momentum Maulid Nabi dan perayaan kemerdekaan dapat menjadi ruang memperkuat religiusitas sekaligus kesadaran kebangsaan.(Arf)

  • Bagikan