
Edisi.id — Program alokasi dana RW sebesar Rp300 juta terbukti memberikan dampak yang nyata buat pembenahan infrastruktur dan fasilitas lingkungan di Kelurahan Baktijaya. Contohnya bisa dilihat langsung di RW 02 Baktijaya. Menurut Ketua RW 02 sekaligus Ketua Paguyuban RW Baktijaya, Zamroni, anggaran ini sangat efektif untuk mewujudkan berbagai usulan warga yang selama ini cuma bisa tertahan.
Salah satu bukti konkritnya adalah perbaikan lapangan olahraga warga yang sudah 25 tahun tak tersentuh renovasi. Dengan memakai alokasi sekitar Rp40 juta dari dana tersebut, lapangan kini sudah ditata ulang, dicor, dan dicat rapi sampai siap dipakai lagi oleh warga. Nggak cuma lapangan, dana itu juga dipakai buat mempercantik taman lingkungan yang kusam serta membeli motor roda tiga (bentor) pengangkut sampah yang dulunya cuma sebatas rencana.
Kendati mendukung penuh keberlanjutan program ini, para pengurus RW menyuarakan aspirasi agar sistem penyalurannya disesuaikan. Mereka mengusulkan supaya ke depannya bantuan diberikan dalam bentuk hibah barang atau program langsung, bukan dana segar. Langkah ini dianggap bakal memangkas berbagai kendala teknis dan administrasi yang selama ini cukup menyita waktu dan pikiran pengurus lingkungan.
“Oh, sangat setuju sekali, karena begini, banyak teman-teman RW juga atau mungkin yang sudah sepuh ya, mereka itu kaitannya dengan proposal kan pasti mereka ada keterbatasan. Tapi dengan adanya dana Rp300 juta ini kan berarti udah pasti dana itu ada dan akan diserap di RW masing-masing secara prioritas kebutuhan di lingkungannya”, ujar Zamroni saat diwawancarai pada Kamis (08/10/2026).
Zamroni menjelaskan kalau tidak sedikit pengurus RW yang usianya sudah sepuh dan kewalahan jika harus mengurus penyusunan proposal hingga prosedur pencairan yang rumit. Ditambah lagi, mengelola dana segar menuntut pembuatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang ketat, risiko pemeriksaan oleh Inspektorat, hingga potensi munculnya prasangka atau sentimen dari warga terhadap Kelompok Masyarakat (Pokmas).
Nah, kalau memakai skema hibah, pengurus RW tinggal menerima hasil atau barangnya saja sesuai dengan prioritas kebutuhan warga di lingkungannya. Mereka tidak perlu lagi terbebani oleh urusan birokrasi yang berbelit-belit. Harapannya, penyesuaian mekanisme ini bisa bikin penyerapan anggaran di tingkat RW berjalan jauh lebih efektif, transparan, dan benar-benar tepat sasaran.















