Gempar! Iran Hancurkan Pesawat Mata-mata AS E-3 Sentry AWACS di Arab Saudi, Kondisinya Hancur Total

  • Bagikan

edisi.id –Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan keberhasilan operasi militer mereka. Sebuah pesawat komando dan kontrol kebanggaan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), E-3 Sentry AWACS, dilaporkan hancur 100% akibat serangan rudal dan drone yang presisi di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi.

Serangan yang terjadi pada Jumat lalu ini melibatkan kekuatan besar yang terdiri dari sedikitnya enam rudal balistik dan 29 pesawat tak berawak (UAV). Target utama serangan ini adalah aset-aset strategis militer AS yang bermarkas sekitar 96 km di tenggara Riyadh. Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa pesawat yang sering dijuluki “mata-mata langit” tersebut tidak lagi bisa diperbaiki setelah terkena hantaman tepat di bagian kubah radar.

Pihak IRGC menegaskan bahwa operasi ini merupakan bentuk balasan langsung terhadap kebijakan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Iran menyampaikan pesan yang sangat keras terkait kehadiran pasukan asing di tanah Arab.

“Pangkalan Arab Saudi tersebut menjadi sasaran sebagai respons atas tindakan permusuhan dari tentara teroris AS,” tegas pejabat IRGC dalam pengumuman resminya di Teheran.

Dampak dari serangan ini tidak hanya merugikan materiil, tetapi juga menjatuhkan korban jiwa. Setidaknya 15 tentara AS dilaporkan terluka, dengan lima di antaranya dalam kondisi kritis. Publikasi internal militer, Air & Space Forces Magazine, serta pemantau intelijen OSINTdefender juga telah mengonfirmasi kehancuran pesawat AWACS tersebut melalui bukti foto satelit dan lapangan.

Kabar mengenai hancurnya E-3 Sentry ini menjadi tamparan keras bagi militer AS, mengingat peran vital pesawat tersebut dalam mengawasi ruang udara dan memandu jalannya pertempuran. Foto-foto yang beredar di platform X menunjukkan kerusakan parah pada bagian belakang pesawat, tempat di mana sistem radar canggih seharusnya berada.

Menanggapi situasi yang kian memanas, desas-desus mengenai invasi darat oleh AS ke Iran mulai berembus kencang. Kabarnya, sekitar 3.500 Marinir AS kini dalam status siaga penuh untuk melakukan tindakan balasan. Namun, Iran justru membalas dengan gertakan bahwa mereka siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk di wilayah perairan Teluk Persia.

Di sisi lain, sekutu-sekutu Iran seperti Rusia disebut-sebut ikut berperan dalam memberikan bantuan data intelijen untuk melancarkan serangan ini. Krisis energi global pun diprediksi akan semakin nyata mengingat ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur urat nadi minyak dunia kini berada di depan mata.

Hingga berita ini diturunkan, Washington belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai langkah apa yang akan diambil setelah kehilangan salah satu aset udaranya yang paling berharga. Dunia kini menanti dengan cemas, apakah insiden di Pangkalan Prince Sultan ini akan memicu perang terbuka yang lebih besar antara AS dan Iran.

  • Bagikan