edisi.id — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi pengerahan pasukan darat dalam konflik yang tengah memanas dengan Iran. Dalam wawancara terbaru pada Minggu (5/4/2026), Trump memberikan sinyal yang cukup berhati-hati namun tetap meninggalkan ruang bagi segala kemungkinan militer di masa depan.
Meski tekanan domestik dan internasional terus meningkat seiring pecahnya perang sejak Februari lalu, Trump menilai bahwa pengerahan infantri secara besar-besaran ke tanah Iran belum menjadi prioritas utama. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat sangat bergantung pada respons Teheran terhadap tuntutan Washington dalam beberapa hari ke depan.
”Saya rasa itu tidak perlu, tetapi saya tidak mengesampingkan kemungkinan apa pun,” tegas Trump saat diwawancarai oleh ABC News.
Pernyataan ini muncul di tengah ultimatum keras yang dilayangkan Trump terkait pembukaan Selat Hormuz. Jika Iran gagal mencapai kesepakatan hingga batas waktu Selasa (7/4/2026) malam, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital negara tersebut, mulai dari pembangkit listrik hingga akses jembatan nasional.
“Jika mereka tidak melakukan sesuatu hingga Selasa malam, mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik dan tidak akan ada jembatan yang tersisa,” ujar Trump melalui Wall Street Journal.
Menanggapi gertakan tersebut, pihak militer Iran tidak tinggal diam. Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi selaku Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, justru menilai ancaman Trump sebagai bentuk kebodohan. Ia balik mengancam bahwa agresi sekecil apa pun dari pihak AS dan sekutunya akan memicu balasan dahsyat yang menyasar seluruh infrastruktur militer mereka.
”Makna sederhana dari pesan ini adalah bahwa pintu neraka akan terbuka untukmu,” ancam Jenderal Aliabadi melalui saluran Al Jazeera.
Situasi saat ini berada di titik nadir setelah berbagai insiden, mulai dari jatuhnya pesawat F-15E hingga tewasnya pemimpin tertinggi Iran yang memicu eskalasi tanpa henti. Dunia kini tertuju pada batas waktu Selasa malam mendatang, apakah diplomasi akan menang atau justru serangan udara AS akan berlanjut ke tahap invasi darat yang lebih berdarah.












