Hadiri Rapat Tupoksi, Lurah Depok Sebut Pokdarwis Harus Menjadi Motor Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Lokal Pusat Kota

  • Bagikan

Depok | Edisi.id — Lurah Depok, Hendra Sumirat (Hensu), menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai instrumen partisipatif dalam membangun ekosistem pariwisata berbasis potensi lokal. Hal tersebut disampaikan Hensu saat menghadiri Rapat Kerja (Raker) Tupoksi Pokdarwis Kelurahan Depok di kawasan Destinasi Lokal Situ Rawa Besar, Kampung Lio.

“Pengembangan pariwisata di Kelurahan Depok harus dilakukan secara sistematis, berbasis potensi lokal, dan melibatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Pokdarwis tidak boleh hanya menjadi pelengkap kegiatan pariwisata, tetapi harus menjadi motor penggerak yang mampu mengorganisasi potensi masyarakat”, ucap Hensu, Selasa 25/8/2026 malam.

Menurutnya, pendekatan pembangunan pariwisata harus bergeser dari orientasi sektoral menuju model pengelolaan destinasi yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kita ingin pariwisata memiliki ‘Multiplier Effect’ terhadap perekonomian warga. Artinya, ketika sebuah destinasi berkembang, UMKM harus ikut tumbuh, kapasitas SDM meningkat, lapangan aktivitas ekonomi bertambah, dan masyarakat memperoleh manfaat secara langsung”, terangnya.

Lurah Hensu menyebut, bahwa Situ Rawa Besar sebagai salah satu aset strategis yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal dengan pendekatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Situ Rawa Besar memiliki potensi yang tidak hanya bernilai rekreatif, tetapi juga ekologis dan ekonomis. Karena itu, pengelolaannya harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat dan pelaku UMKM”, tegasnya.

Selain Situ Rawa Besar, Hensu menilai, bahwa Sungai Ciliwung dan kawasan Heritage Depok Lama memiliki nilai strategis untuk dikembangkan sebagai bagian dari jaringan destinasi wisata pusat Kota Depok.

“Ciliwung memiliki karakter ekologis dan sosial, sementara Depok Lama mempunyai nilai sejarah. Kita juga memiliki sejumlah peninggalan sejarah yang dapat menjadi daya tarik wisata edukatif. Potensi-potensi ini harus dipetakan dan dikoneksikan agar membentuk satu ekosistem destinasi yang memiliki identitas kuat”, jelasnya.

Ia menekankan, bahwa pengembangan destinasi membutuhkan tata kelola profesional, mulai dari perencanaan, penguatan sumber daya manusia, promosi, hingga pengembangan produk wisata dan UMKM.

“Kalau ingin menjadi destinasi yang berdaya saing, pengelolaannya tidak bisa sporadis. Harus ada perencanaan, indikator capaian, pembagian tugas yang jelas, peningkatan kapasitas SDM, serta strategi promosi yang terukur. Di sinilah fungsi Pokdarwis menjadi sangat penting”, ungkapnya.

Menurut Hensu, Raker Tupoksi menjadi momentum untuk memperjelas orientasi kelembagaan Pokdarwis sekaligus menyusun agenda kerja yang memiliki dampak konkret terhadap masyarakat.

“Saya berharap Raker ini menghasilkan program yang realistis, terukur, dan berorientasi pada manfaat publik. Pokdarwis harus mampu membangun kolaborasi dengan pemerintah, UMKM, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat. Jangan berjalan sendiri-sendiri”, bebernya.

Lurah Hensu juga menegaskan, bahwa pemerintah Kelurahan siap menjadi bagian dari proses kolaboratif tersebut dengan tetap menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pengembangan destinasi.

“Pemerintah kelurahan siap bersinergi. Kita ingin membangun destinasi wisata lokal yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi memiliki nilai ekonomi, sejarah, sosial, dan ekologis. Ukuran keberhasilannya adalah ketika masyarakat semakin berdaya dan potensi lokal mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi”, pungkasnya.(Arf)

  • Bagikan