
Edisi.id — Insiden pemadaman listrik total atau blackout yang melanda wilayah Pulau Batam dan Bintan pada Senin (12/10/2026) memicu penyelidikan intensif guna mengungkap penyebab pasti gangguan operasional di Gardu Induk Sei Harapan.
Direktur Utama PT PLN Batam, Kwin Fo, memberikan klarifikasi resmi untuk menanggapi spekulasi yang berkembang di masyarakat. la menegaskan bahwa gangguan tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas pengujian beban listrik pada sektor pusat data (data center) di wilayah tersebut.
Pihak kepolisian, yang melibatkan Bareskrim Polri dan Polda Kepri, saat ini tengah mendalami penyebab gangguan kelistrikan di Gardu Induk Sei Harapan. Meskipun awalnya muncul dugaan adanya intrusi hewan liar, tim menemukan sejumlah kejanggalan pada infrastruktur pemantauan di lokasi kejadian.
Berdasarkan data rekaman operasional, kamera pengawas (CCTV) di area tersebut diketahui telah mengalami pergeseran posisi pada Minggu (11/10/2026) pukul 18.43 WIB, atau sehari sebelum insiden terjadi. Perubahan sudut pandang kamera ini mengakibatkan visualisasi trafo yang mengalami percikan api tidak tertangkap dengan jelas, sehingga menghambat identifikasi awal secara visual.
Di tengah proses investigasi, PT PLN Batam tetap melanjutkan rencana strategis pengembangan infrastruktur kelistrikan. Perusahaan menargetkan peningkatan daya pasok hingga mencapai 1.300 MW pada tahun 2027 mendatang.
Langkah ini akan ditempuh melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta implementasi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) untuk memperkuat stabilitas pasokan listrik di Kepulauan Riau.















